Kamis, 08 Oktober 2009

SKRIPSI - CONTOH LATAR BELAKANG

Latar Belakang
Produktivitas sapi perah di Indonesia masih sangat rendah. Hal tersebut disebabkan penampilan reproduksi yang rendah, oleh karena itu mengevaluasi penampilan reproduksi merupakan hal yang penting dan mutlak (Harjopranjoto, 1995).
Penampilan reproduksi adalah semua aspek yang menyangkut reproduktivitas sapi, pada sapi perah betina penampilan reproduksi dapat berupa umur pertama birahi, umur pertama dikawinkan dan umur beranak pertama serta timbulnya birahi lagi setelah beranak, jumlah perkawinan perkebuntingan, jarak beranak dan waktu kosong, namun demikian semua aspek reproduksi tersebut akan tercermin pada dua hal pokok yaitu umur pertama beranak dan selang beranaknya (Hardjosubroto, 1994).
Proses reproduksi yang berjalan normal akan diikuti oleh produksi ternak yang baik. Kemampuan reproduksi yang tinggi disertai dengan pengelolaan ternak yang baik akan menghasilkan efisiensi reproduksi yang tinggi diikuti dengan produktivitas ternak yang tinggi pula. Sebaliknya kemampuan reproduksi yang rendah karena adanya kemajiran akan menghasilkan produktivitas ternak yang menurun (Hardjosubroto, 1994).
Produktivitas sapi perah yang rendah salah satunya disebabkan oleh penampilan reproduktivitas yang rendah. Setiap sapi perah dikawinkan dan menjadi bunting sebelum sapi tersebut beranak dan menghasilkan susu. Jumlah anak dan susu yang dihasilkan sepanjang waktu hidupnya dipengaruhi oleh kesuburan ternak dan cara perkawinan, agar sistem produksi susu berkelanjutan maka usaha sapi perah perlu dikelola secara efisien, khususnya masalah reproduksi. Reproduksi yang berhasil dalam waktu yang memadai akan menghasilkan pedet dan susu, hal itu berarti kelanjutan usaha persusuan bisa diharapkan serta dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi peternak maupun pekerja terkait (Soetarno, 2000).
Faktor yang mempengaruhi reproduksi selain faktor patologik juga terdapat faktor fisiologik, seperti perubahan umur, cahaya, temperatur, musim yang pada umumnya tidak dapat dikendalikan. Sukabumi merupakan daerah sentra peternakan sapi perah di Jawa Barat yang memiliki potensi pengembangan cukup besar. Populasi sapi perah di Sukabumi yang mencapai 5000 ekor dengan kapasitas produksi baru 20.000 liter perhari, ditargetkan daerah ini masih dapat menangkap peluang pasar pengembangan sektor peternakan sapi perah dengan produksi tinggi dengan dukungan banyaknya industri pengolahan susu seperti PT. Indomilk, PT. Friesian Flag, PT. Indolacto yang menampung produksi susu di wilayah ini.
Seiring naiknya harga susu menjadi Rp.3120,- per liter menjadikan sektor peternakan sapi perah kembali merangsang minat dan semangat peternak mengembangkan usahanya. Koperasi Peternakan Pasir Salam merupakan salah satu koperasi yang memiliki anggota terbanyak di wilayah Nyalindung, dengan bentuk kandang kelompok yang memiliki potensi yang baik dalam pengembangan peternakan sapi perah namun tingkat produksinya masih cukup rendah sekitar 8 – 10 liter/ekor/hari. Melihat banyaknya faktor yang mempengaruhi kinerja reproduksi baik faktor yang berdiri sendiri atau interaksi berbagai faktor maka sebagai langkah awal dalam usaha peningkatan kinerja reproduksi dibutuhkan informasi kinerja reproduksi induk laktasi di koperasi tersebut dengan memperhatikan faktor yang ada. Muncul gagasan dari koperasi untuk melakukan peninjauan faktor yang ada untuk mengetahui sejauh mana faktor tersebut berpengaruh terhadap kinerja reproduksi yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi. Berdasarkan fakta tersebut maka perlu dilakukan evaluasi kinerja reproduksi pada kelompok umur berbeda sehingga diharapkan akan memberikan informasi bagi koperasi untuk mengambil langkah dan pemecahan masalah reproduksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar